Sabtu, 04 Juli 2015

Ibu rumah tangga oke, karir jalan terus

Menjadi seorang ibu rumah tangga itu pasti bagi setiap wanita yang sudah menikah. Menjadi wanita karir yang sudah menikah adalah sebuah kesempatan dan pilihan. Akan tetapi, tuntutan jaman sekarang yang sebagian aktfiitas dan kebutuhan bisa terpenuhi dengan UANG, membuat sebagian besar istri memilih ikut terjun mencari tambahan pemasukan. Dan sebagian besar wanita berpendidikan tinggi, memilih tetap berkarir pasca menikah dengan alasan sayang ilmu dan titel yg sudah diperjuangkan bertahun-tahun di bangku akademik.

Suami adalah penentu utama bagi seorang ibu rumah tangga yg ingin tetap berkarir. Laki-laki jaman sekarang sebagian besar tidak keberatan istrinya tetap berkarir. Tapi ada juga sebagian laki-laki yang melarang istrinya berkarir dengan alasan takut ditelantarkan istri di rumah, seperti kasus adik saya. Memang itulah salah satu sisi negatif wanita berkarir, apalagi kalau karirnya sedang bagus-bagusnya. Bukan satu dua keluarga yg hancur karena istri terlalu sibuk dengan karir sehingga suami dan anak tidak diperhatikan. Saya pernah mengalami juga. Saat saya sedang semangat-semangatnya kerja, otomatis kinerja saya menjai favorit atasan. Sehingga atasan terlalu banyak memberi pekerjaan pada saya yg saya terima dengan senang hati karena saya sedang semangat2nya bekerja. Sampai suami protes karena saya kurang memperhatikan anak saya dan saya menghiraukannya. Akan tetapi akhirnya saya sadar setelah mengalami keguguran calon anak kedua saya yg masih berumur 3 bulan dalam perut karena kelelahan bekerja. Secinta-cintanya saya pada pekerjaan saya, tp sedih hati saya ketika anak pertama saya lebih fokus ke layar televisi daripada ibunya yg sedang berteriak kesakitan. Dari situ saya sadar bahwa uang bukanlah segalanya yg dibutuhkan oleh anak saya. Dan saya tidak ingin mengalami hal yg hampir serupa ketika saya sudah tua tak berdaya tapi anak saya tak menghiraukan saya.

Akhirnya saya merubah prioritas hidup saya. Dulu 80 % hidup saya saya abdikan untuk pekerjaan, sekarang saya berusaha mengurangi porsinya dengan target 50% saja untuk pekerjaan. Akhirnya, dalam waktu 3 bulan saya bisa lebih dekat dengan anak saya dan suami tidak lagi protes. Pada saat saya sedang tidak enak badan, tanpa saya suruh anak saya yg masih berusia hampir 7 tahun memijat badan saya. Walau pijatannya tidak seenak tukang pijat langganan saya, tapi bagi saya rasanya sangat luar biasa... melebihi tukang pijat profesional.

Berikut ini adalah tips yang akan saya bagikan pada ibu-ibu muda semua agar kehidupan rumah tangga tetap harmonis dan karir jalan terus:

1. Maksimalkan pekerjaan di tempat kerja, JANGAN BAWA PULANG PEKERJAAN KE RUMAH!
    Usahakan gunakan waktu kerja seefektif mungkin. Beristirahatlah secukupnya dan ketika sudah waktunya kerja kembali segera fokus melanjutkan pekerjaan. Saya ambil contoh pengalaman pribadi saya. Kadang untuk melawan kejenuhan ddan kepenatan ditempat kerja kita sering ngobrol dengan teman kerja. akhirnya pekerjaan agak terganggu dan lambat. Saya mengakui bahwa FOKUS bukan hanya kebutuhan laki-laki dalam bekerja. Wanita pun dituntut untuk fokus dalam bekerja jangan disambi ngobrol. Ngobrol hanya pada saat jam istirahat sambil makan, tapi sambil lihat-lihat jam.
    Kalau pekerjaan tidak selesai di hari itu, lanjutkan keesokan harinya. Jangan bawa pulang pekerjaan ke rumah.

2. Beritahu keluarga jika ada rencana lembur.
    Ketika saya ada rencana lembur pada saat hari itu juga, saya komunikasikan dengan keluarga. Saya hubungi ibu atau bibi saya untuk menjaga anak saya sebentar karena saya akan pulang terlambat. Dan saya ucapkan pada diri saya bahwa saya harus fokus ddan selesai pada sekian jam agar bisa cepat pulang.

3. Belikan hadiah untuk suami dan anak setiap habis terima gaji
    Hadiah tidak harus sesuatu yg besar dan mahal. saya kadang hanya membelikan kemeja atau kaos pada suami dan kadang es krim atau komik terbaru pada anak. Yang penting suami dan anak merasa kita punya perhatian pada mereka. Atau kalau punya uang lebih, belikan barang yg sedang mereka sangat inginkan. Intinya, mereka akhirnya sadar bahwa toh kita kerja juga untuk mereka juga pada akhirnya.

4. Pergi makan bersama di luar
    Saya dan suami hubungan jarak jauh. Saya tinggal bersama anak di desa. Suami di kota yang jaraknya 4 jam perjalanan berkendara. Setiap 2 bulan sekali kami bertemu. Karena anak saya rindu pada sosok ayah. Saya ingin mengisi hari-harinya saat tidak ada ayah dengan saat-saat bahagia bersama ibunya. Setiap seminggu sekali kami akan keluar jajan bersama walau hanya beli bakso atau makanan kesukaannya. Dan saat bertemu dengan ayahnya, kami akan pergi ke rumah makan atau ke KFC untuk makan bersama. Dan sering kami pergi ke pantai sebagai tempat favorit liburan keluarga daripada ke kolam renang umum.

5. Jangan bawa masalah di tempat kerja ke rumah
    Tak selamanya tempat kerja adalah surga untuk mencari uang. Kadang banyak masalah yg terjadi ddi tempat kerja yg menyebabkan kita tertekan dan emosional. Dulu saya kadang melampiaskan kekesalan saya pada suami atau anak. Tapi sekarang, saya rubah pemikiran saya. Saya berfikir begini, ketika saya meninggalkan tempat kerja saat marah karena urusan pekerjaan, saya akan berfikir bahwa saya sudah keluar dari neraka. Dan bergegaslah saya ke surga, melihat malaikat kecil saya dengan segala kelucuannya.

Itulah beberapa tips yg bisa saya bagi. Saya akui, beda orang beda kondisi dan beda solusi yg dibutuhkan. Jadi silakan iambil yg relevan dengan kondisi anda. Siapa tahu it's work.

Semoga sukses!!!